Sunday, February 19, 2017

LDS HTI Gelar Talk Show Remaja Smart di SMKN 1 KENDARI

LDS HTI Gelar Talk Show Remaja Smart di SMKN 1 KENDARI









Hari ini, Ahad, 19 Februari, Lembaga Dakwah Sekolah (LDS) Hizbut Tahrir Indonesia mengadakan TalkShow di Aula terbuka SMKN 1 KENDARI. Acara ini mengangkat tema, "REMAJA SMART, REMAJA ANTI GAUL BEBAS". Hadir sebagai pemateri Rahmad, S.Kom I (Owner Pemuda Move On ) dan Irnaldhy Kusuma Jaya (Pengasuh Rubrik Remaja di dakwahremajakendari.com)
Acara yang dihadiri ratusan pelajar Sekota-Kendari ini diberikan apresiasi oleh Kepala Sekolah SMKN 1 KENDARI, Drs. Ali Koua. Dalam sambutannya, beliau memandang baik acara ini bagi para pelajar. Bahkan demi untuk hadir di acara ini, kata beliau, beliau tak mengikuti pertemuan Kepala-kepala Sekolah yang diadakan hari ini. Masya Allah!
Berikut ini foto-foto acara talk show remaja hari ini.


[Hardijofandu]

Saturday, February 11, 2017

Penghina Ulama dan Islam Tumbuh Subur dalam Demokrasi

Penghina Ulama dan Islam Tumbuh Subur dalam Demokrasi





Oleh: Hardi Jofandu, Anggota Tim LDS HTI KOTA KENDARI

Ahok memang keterlaluan. Belum cukup melukai hati umat islam dengan menghina surat Al-Maidah: 51 di kepulauan seribu, kembali ia menghina ulama besar kita, K.H Ma’ruf Amin. Ahok menuduh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia tersebut memberikan keterangan palsu di sidang ke-8 kasus penistaan agamanya. Lebih jauh, ia dan pengacaranya menuduh K.H Ma’ruf Amin membuat fatwa penistaan agama untuk kepentingan politik pilkada di DKI Jakarta.
Penghinaan oleh Ahok ini mendapatkan kecaman oleh sejumlah pihak, salah satunya Redim Okto Fudin, Ketua Hubungan Antar Lembaga PW GP Anshor DKI Jakarta. Redim menilai bahwa tindakan penghinaan Ahok tersebut harus diberikan pelajaran. “Mungkin ahok ini belum tahu cara bicara atau adab bicara dengan kiai. Itu yang perlu dikasih pelajaran kepada Ahok seperti itu dulu” ujar Redim saat dihubungi SINDOnews, Rabu (1/2/2017).
Tak ketinggalan, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Bachtiar Nashir juga angkat bicara. Beliau mengecam keras penghinaan Ahok dan pengacaranya kepada K.H Ma’ruf Amin. “Kami mengecam keras BTP (Ahok, red) dan penasihat hukumnya atas setiap penghinaan mereka terhadap ulama” kata Bachtiar Nashir.
Penghinaan ulama bukan hanya dilakukan oleh si Ahok. Sebelumnya, Komika Uus, juga menghina ulama besar kita, yang sekaligus Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Shihab. Pria bernama asli Rizky Firdaus Wijaksana ini mengatakan dalam cuitan twitternya bahwa Habib Rizieq bukan ulama. “emang Rizieq ulama? *boooom” tulis Uus dalam akun twitternya.
Tak hanya penghinaan ulama saja yang marak, penghinaan simbol-simbol islam juga kerap terjadi. Kita masih ingat, tahun lalu, Kemenag RI memperingati Hari Ulang Tahun atau Hari Amal Bhakti ke-70. Ironisnya, seusai acara tersebut, ditampilkanlah para penari yang berlenggak-lenggok diatas karpet shalat.”Kasihan, Islam Nusantara mengangkat budaya lokal menginjak simbol islam. Tarian lokal angkat ketiak kemana-mana buat merayakan HUT Amal Bhakti Kemenag. Semoga Allah berikan hidayah kepada kita semua”komentar Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat Fahmi Salim melalui akun facebooknya, senin (04/01/2016)
Akar Masalah: Demokrasi!
Maraknya penghinaan terhadap ulama dan islam tentu saja menyisakan pertanyaan besar: tentang apakah akar masalah sehingga banyak penghina islam bermunculan? Dan mengapa penghinaan terhadap islam masih saja terjadi?
Jika dianalisis, ada beberapa penyebab mengapa penghinaan terhadap ulama makin marak terjadi:
Pertama, Adanya kebebasan bertingkah laku (freedom of behavior) dan kebebasan berpendapat (freedom of speech). Melalui dua ajaran sesat Demokrasi ini, orang-orang bebas bertingkah laku dan berpendapat semaunya, termasuk menghina ulama dan islam. Dua kebebasan ini, bahkan dijadikan tameng (pelindung, red) oleh penghina-penghina tersebut. Kita masih ingat betul, editor Charlie Hebdo, Stephane Charbonnie setelah menghina Nabi Muhammad saw mengatakan, “Kami pikir mungkin akan ada rasa hormat yang lebih untuk pekerjaan satir kami, hak kami untuk mengejek. Kebebasan untuk memiliki tawa yang baik adalah sama pentingnya dengan kebebasan berbicara”.
Kedua, masalah agama tak lagi diindahkan. Kita tahu aqidah Demokrasi adalah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan, red). Pada prinsipnya, Demokrasi mengajarkan bahwa agama hanya boleh di mesjid, sedangkan di ranah publik, agama harus dicampakkan. Ajaran sesat ini sukses mencetak manusia-manusia munafik: taat kepada sebagian aturan Allah dan ingkar kepada sebagian lainnya. Tak hanya itu, Demokrasi juga sukses menciptakan manusia-manusia yang tak lagi mengindahkan masalah agama. Akibatnya, masalah agama tak lagi dipandang penting. Bahkan parahnya, agama hanya dijadikan bahan lawakan. Karena itu, menghina agama bagi mereka adalah sesuatu yang biasa.
Ketiga, Tidak ada tindakan cepat dan tegas bagi pelaku. Tidak adanya tindakan tegas bagi pelaku, tentu saja tidak membuat si pelaku kapok (jera,red). Kasus Ahok misalnya. Meski sudah berstatus terdakwa, si Ahok masih bebas berkeliaran kampanye, senyam-senyum kesana-kemari. Itu tandanya, hukum tak lagi menakutkan dan membuat jera si pelaku. Hukum lebih cenderung tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Bahkan, kata SBY, tebang pilih hukum sudah menjadi rahasia umum.(Republika.co.id,7/2/2017).
Demikianlah tiga penyebab maraknya penghinaan terhadap ulama dan islam. Dan perlu dicatat, ketiga penyebab diatas lahir dari sistem Demokrasi yang kita terapkan saat ini.
Hentikan, dengan Khilafah!
Dari sini jelaslah bahwa biang kerok maraknya penghinaan terhadap ulama dan islam bersumber dari sistem bobrok yang kita terapkan. Karena itu, adalah mimpi bila kita ingin menyelesaikan masalah penghinaan ini menggunakan Demokrasi. Mengapa?
Selain karena Demokrasilah yang menyebabkan marak penghinaan islam, Demokrasi tak dapat menyelesaikan masalah ini dengan tiga alasan:
Pertama, karena rezim yang ada jelas tidak melihat agama sebagai sesuatu yang penting apalagi harus mempertaruhkan hidup-mati.
Kedua, Penguasa kaum muslim saat ini boneka dan antek penjajah. Karena itu, berharap kepada mereka untuk melindungi islam dan umatnya, jelas sulit!
Ketiga, Kalaupun mereka bertindak, faktor utamanya bukan karena pembelaan terhadap islam, tetapi karena kepentingan. Jadi, berharap kepada sistem Demokrasi untuk menjaga islam dan umatnya adalah sesuatu yang mustahil terjadi. 
Karena itu, untuk menyelesaikan masalah ini, Demokrasi harus dicampakkan dari negeri ini. Tentu saja, pencampakkan ini harus diikuti dengan penerapan syariah islam secara total dalam bingkai Daulah Khilafah. Sistem inilah yang akan menjaga islam dan umatnya dari penghina-penghina laknatullah!
Dengan adanya Khilafah, penghinaan ulama dan islam akan dihentikan. Jangankan penghinaan di dalam negara, di luar negara saja Khilafah akan hentikan. Kita ingat bagaimana Khilafah Utsmaniyyah berhasil menggagalkan pertunjukan Drama penghinaan Nabi karya Voltaire yang digelar di Paris Prancis. Bila penghinaan di luar negara Khilafah saja dapat dihentikan, tentu penghinaan di dalam negara lebih mudah lagi dihentikan!
Khilafah menjaga kehormatan islam dan umatnya. Khilafah tak akan memberikan ruang bagi siapapun untuk menghina islam dan umatnya. Karena itu, wajar bila Hazhalah bin Shaifi al Khatib, salah seorang sekretaris Nabi saw. pernah berkata saat ada fitnah untuk menggulingkan khalifah Utsman bin Affan, “Aku heran dengan apa yang diobrolkan manusia. Mereka ingin Khilafah lenyap. Padahal jika khilafah lenyap, kebaikan dari mereka pun lenyap. Setelah itu, mereka akan hina-dina”.
Wahai Kaum Muslimin: Berjuanglah!
Kita semua tahu bahwa saat ini islam dihinakan. Kita juga tahu bahwa kita tak memiliki penjaga islam, yang akan menjaga kemuliaan islam dan kaum muslimin. 
Karena itu, sikap kita dalam menghadapi persoalan ini tentu bukan dengan diam, melainkan berjuang menegakkan negara khilafah. Khilafahlah penjaga kemuliaan islam itu. Maka marilah bersama-sama merapatkan barisan dalam perjuangan ini. Wallahu alam bish shawab.[][dari berbagai sumber]