Thursday, August 9, 2018

Politik Bukan Ajang Coba-coba

Politik Bukan Ajang Coba-coba


Oleh : Etti Budiyanti

Member Akademi Menulis Kreatif


Pendaftaran calon legislatif (caleg) telah ditutup pada 17 Juli 2018. Banyak artis yang diusung partai politik untuk menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024. Minimnya kader dari internal partai yang mumpuni dan namanya laku dijual ke masyarakat untuk pemilihan legislatif tahun depan,  mengakibatkan partai politik mencari jalan instan dengan menggandeng artis untuk mendulang suara.  


Menurut data okami.id terdapat 54 artis yang mendaftarkan diri menjadi calon legislatif.  Nama-nama artis seperti Nurul Arifin,  Rieke Diah Pitaloka, Katon Bagaskara, Annisa Bahar hingga Giring Nidji masuk dalam daftar artis yang mencalonkan menjadi wakil rakyat.  Namun banyak pihak yang pesimis terhadap kemampuan para artis tersebut,  terutama yang baru pertama menjadi anggota DPR RI. Seringkali mereka hanya mencoba peruntungan dalam politik. Bahkan Giring Nidji pun menjelaskan motif nyaleg karena terinspirasi Jokowi yang dulu hanya seorang pengusaha meubel. 


Begitulah,  fenomena artis nyaleg ini adalah niscaya dalam sistem politik demokrasi yang asasnya sekuler materialistik. Ketika materi dijadikan sebagai tujuan hidup maka akan melakukan segala cara untuk meraihnya.  Maka, tak akan diperhitungkan kapabilitas sang caleg yang penting sosoknya bisa mendulang banyak suara. Mereka tak berhitung bahwa di setiap jabatan akan ada pertanggungjawaban.


Makna politik dalam Islam


Islam adalah agama yang sempurna, paket problem solving sempurna dari Allah SWT.  Sebagai pencipta kita,  tentunya hanya Allah SWT sajalah yang paham apa yang terbaik untuk makhluknya. 


Islam mengatur bagaimana hubungan manusia dengan Allah SWT,  diri sendiri dan sesama manusia. Demikian pula dengan politik,  Islam juga telah mengaturnya.  

Dalam Islam politik dikenal dengan siyasah.  Menurut bahasa,  siyasah berarti mengatur,  memperbaiki dan mendidik.  Sedang menurut etimologi,  siyasah memiliki makna yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. 


Dalam Islam,  politik  adalah sesuatu yang agung karena merupakan bagian hukum syara' yang menjadi induk pelaksanaan hukum-hukum syara' lainnya.  Orang yang terjun dalam politik praktis atau ranah kekuasaan dipastikan adalah orang yang paham Islam,  paham bagaimana tanggung jawab dan cara meriayah umat serta siap menjalankan kepemimpinannya bersandarkan pada hukum-hukum syara'.  


Jadi,  politik bukan ajang coba-coba apalagi sekedar untuk eksistensi diri.


Wallahu a'lam bishshowab.


Mimpi Demokrasi Berantas Korupsi

Mimpi Demokrasi Berantas Korupsi


  Oleh : Agus su 

AktivisAnggota dakwah/Anggota #AMK3) 

        "Bagai pungguk merindukan bulan" Pribahasa ini tepat untuk menggambarkan usaha sia-sia yang di lakukan pemimpin dinegeri ini dalam menangani kasus korupsi sementara yang mereka terapkan ideologi kapitalis-sekuler yang tidak menghadirkan Ruh ( kesadaran akan hubungan dengan sang kholiq) dan Demokrasi yang system politik berbiaya tinggi. Hal ini terbukti dari banyaknya  nama pejabat yang terus bermunculan dalam kasus korupsi , padahal hukuman penjara dan denda sejumlah uang telah diberlakukun. Ini adalah dampak dari kegagalan demokrasi dan UU-nya yang tidak bisa memberikan pengaruh atau efek jera pada para narapidana. Sehingga mereka yang sudah dinyatakan sebagai terdakwa sekalipun tidak merasa berdosa ataupun menyesal. Mengapa demikian, karena dalam sistem demokrasi hukumpun dapat dibeli dengan uang. Seperti yang dilansir dalam media https://nasional.kompas.com  "bagaimana koruptor bisa jera dan tidak mengulangi perbuatannya kalau fasilitas yang mereka peroleh dilapas masih dalam tanda kutip istimewa dibandingkan napi lain?" Kata Almas Sjafrina  peneliti devisi korupsi politik indonesia coruption watch ( ICW). Fasilitas mewah lapas juga ditemukan dinikmati oleh terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan, bahkan ditahun 2010 Gayus sering keluar lapas mako Brimob Depok dengan menyuap sejumlah petugas. Tak hanya keluar kota, tetapi Gayus juga sempat pergi keluar negeri dengan menggunakan paspor palsu atas nama Soni Laksono. Dan hal tersebut pasti karena ada yang memberi izin. Di tahun 2010 juga terjadi penemuan fasilitas mewah di sel terpidana narkoba Artalyta Suryani atau Ayin di Rutan kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur.

        Tujuan pemidanaan menurut sistem demokrasi ini adalah agar orang berubah menjadi baik, agar ada keadilan dan agar orang lain tidak meniru perbuatan yang sama dan membuat efek jera. Namun jika kita melihat kasus pemberian sejumlah uang hingga sebuah mobil yang diberikan oleh suami Inneke Koesherawati yakni Fahmi Darmawangsa kepada Kalapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat Wahid Husen untuk bisa membeli hunian lapas yang nyaman dengan segala kemewahan. Maka tujuan pemidanaan ibarat pepatah  "jauh panggang dari api". Tujuan yang kenyataan yang sangat tragis. Ungkap ketua Kpk Saut Situmorang  dalam https://news.okezone.com 

        Hukuman penjara yang seharusnya menbuat jera, malah sebalikny membuat orang lain tidak takut bahkan sepele. Mengapa tidak, jika hukuman penjara yang seharusnya mengekang tetapi faktanya para napi kasus korupsi bisa menikmati penjara yang nyaman senyaman rumah sendiri atau bahkan seperti sedang tinggal di apartement dengan segala fasilitas mewah. Seperti yang dialami terpidana korupsi fahmi Darmawangsa yang mendapatkan sel mewah ala lapas Sukamiskin dengan harga fantastis, bisa mencapai Rp500 juta dan itu belum termasuk jika napi ingin menambah fasilitas lainnya. Ungkap Saut situmorang dalam konferensi pers di gedung kpk, jakarta selatan, sabtu 21 juli 2018 di https://www.liputan6.com Maka tak heran jika banyak pejabat yang kini terus menambah daftar terpidana korupsi. Kesempatan saat menjabat tidak disia-siakan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa perduli akan nasib rakyatnya dan tak gentar akan hukuman yang mungkin akan mereka alami. Karena dengan banyaknya hasil korupsi yang di dapatkan mereka bisa merubah penjara yang mencekam menjadi istana yang nyaman. Maka sudah jelas, memberantas korupsi dengan tetap menerapkan sistem demokrasi-kapitalis  dan UU warisan Barat hanyalah ilusi yang tidak mukin bisa terwujud. 

       Maka sudah pasti yang bisa mewujudkan mimpi untuk memberantas korupsi hanyalah dengan menerapkan syariat islam secara kaffah dengan bersandarkan Al-Qur'an dan hadist dalam naungan khilafah. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai agama islam dikehidupan sehari-hari yang akan mencegah manusia melakukan kemaksiatan termasuk tindakan korupsi yang sama seperti mencuri uang negara/rakyat karena jelas dilarang dalam al-qur'an maupun hadist. Kemudian senantiasa melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya : " muslim itu adalah orang yang menyelamatkan muslim lain dengan lisan ( bahasa ) dan tangannya". (HR.muslim) Dan yang paling penting adalah penerapan hukum dan perundangan yang sesuai syariah islam dengan menggunakan tiga pilar: 1. Pengawasan oleh individu 2. Pengawasan dari kelompok 3.pengawasan oleh negara dengan memberlakukan  hukum yang sesuai perintah Allah dalam al-qur'an. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “ dan hendaklah kamu semua memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang telah di turunkan oleh Allah (al-qur’an) dan jaanganlah menuuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah jangan sampai mereka mempengaruhimu untuk meninggalkan sebagian apa yang diturunkan oleh Allahkepadamu” (QS.Almaidah 49).  

       Dengan pengawasan yang super ketet ini, maka kemungkinan terjadinya tindakan korupsi akan lebih minim karena di dorong dari aspek ruhiyah yang sangat kental ketika menjalankan hukum-hukum islam, sehingga memberikan dampak untuk gemar melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat.  Di berlakukannya hukuman yang keras bertujuan untuk membuat efek jera bagi peleku dan pencegah bagi yang lain. Adapun sanksi  berupa ta’zir  adalah sebagai penebus ( al-jawabir) sehingga mendorong pelakunya untuk bertoubat dan menyerahkan diri. Negara khilafah dalam upaya pencegahan terjadinya tindakan korupsi memastikan kesejahteraan  pegawainya dengan penggajian yang layak. Kemudian  untuk menghindari adanya pembekakan harta kekayaan para pegawai  islam melakukan penghitungan harta kekayaan pegawainya seperti Gubernur dan Amil. Dan dalam upaya menghindari suap  dengan berbagai modus system islam melarang pejabat Negara atau pegawai untuk menerima hadiah.  Rasulullah Saw bersabda : “ siapa saja yang kami (Negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepedanya telah kami beri rezeki (upah/gaji), maka apa yang di ambil olehnya selain itu adalah kecurangan. ( HR.Abu Dawud).seperti yang dilansir dalam media eramuslim.

 Demikianlah cara islam memberantas korupsi dengan menerapkan islam secara universal bukan persial di satu bidang saja untuk mencapai kemaslahatan bagi umat/rakyat keseluruhan. Maka hendaknyan Indonesia, negeri kita tercinta ini segera menerapkan system islam kaffah. 

  “ apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah 50). Wallahu a”lam bi ash-shawab   





Wednesday, August 8, 2018

Duka Lombok, Kode dari Sang Maha Pencipta

Duka Lombok, Kode dari Sang Maha Pencipta


Oleh: Zakiyyah Almanaf


Kawasan Lombok  dan sekitarnya diguncang dua gempa hebat dalam sepekan. Gempa pertama, yang terjadi pada Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter, ternyata bukanlah klimaks. Hanya berjarak sepekan, pada Minggu malam, 5 Agustus 2018, lindu kembali mengguncang wilayah yang sama dengan kekuatan lebih besar, yakni 7 Skala Richter.


Ini fenomena yang jarang terjadi dalam bencana gempa karena kekuatan gempa kedua lebih besar dari gempa pertama. Yang umum diketahui, gempa susulan selalu punya kekuatan lebih rendah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemudian menyatakan gempa berkekuatan 7 Skala Richter yang mengguncang Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada pukul 18.46 WIB adalah gempa utama (mainshock). Sementara gempa 6,4 SR adalah awalan atau foreshock. Liputan6.com 


Dua hari setelah bencana gempa bermagnitudo 7 mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (5/8/2018), jumlah korban terus bertambah.


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, korban meninggal dunia bertambah menjadi 105 orang per Selasa (7/8/2018).

Sementara itu, data sementara terkait korban luka-luka masih berada di angka 236 orang. Masih ada pula ribuan orang lainnya yang mengungsi. Kompas.com


Duka dibalik Peristiwa

Korban yang terus menerus bertambah tentu semakin menyisakan duka untuk masyarakat negeri ini. Peristiwa-peristiwa duka yang kerap kali melanda dan merenggut jiwa hendaknya dijadikan lonceng pengingat bagi manusia. Kode dari sang pencipta akan kebesaran dan kekuasaanNya supaya manusia tunduk kepada hukum-hukumNya. Dengan tanda-tanda kekuasaan itu pula Allah ingin mengingatkan hamba-hambaNya akan kewajibannya kepada Allah.


"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka bahwa Alqur'an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu" ( QS. Fushilat: 53)


Diantara serangkaian penomena alam yang menimpa manusia, sesungguhNya semua berjalan atas kehendakNya. Tidak ada satu kejadianpun yang menimpa manusia tanpa kehendakNya. Hanya saja Allah tidak akan menimpakan keburukan kepada penduduk bumi selama mereka beriman dan bertaqwa.


 "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. " (Al A'raf 96)


Dalam al qur'an disebutkan bahwa kunci makmur dan sejahternya suatu negeri adalah karena taqwanya. Sebaliknya kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi saat ini pemicunya adalah perbuatan dan keserakahan manusia itu sendiri.


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan        manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).  Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan       orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar Rum 41-42)


Dalam tafsir Ibnu Katsir Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid ibnul Muqri, dari Sufyan, dari Hamid ibnu Qais Al-A'raj, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. (Ar-Rum: 41) Bahwa yang dimaksud dengan rusaknya daratan ialah terbunuhnya banyak manusia. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan.


Hal ini menunjukan aktifitas manusia senantiasa terkait dengan penomena alam yang terjadi sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya, Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah. Dan bencana apapun yang menimpamu maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". (QS. An Nisa 79)


Menangkap Kode Illahi

Untuk itu hendaknya manusia menyadari bahwasanya gempa dan kerusakan alam lainnya adalah kode daei sang pencipta. Sebagai pengingay supaya manusia sadar dengan kesalah-kesalahannya kemudian bertaubat membersihkan diri dan kembali ke jalan yang di ridhoi Allah. 


Hal ini sebagaimana yang di perintahkan oleh Rasululloh Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat:


“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”.


Hal serupa dilakukan oleh sahabat Rasululloh yaitu Umar bin Khattab. Pada saat terjadi gempa di Madinah di masa Ke Khilafahan Umar bin Khattab, Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa.


“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”


Begitupun dengan sahabat lainnya yaitu Kaab bin Malik yang memiliki pendapat serupa dengan Umar yang tegas menyatakan bahwa gempa terjadi karena maksiat yang dilakukan oleh manusia. "Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla melihatnya.”


Penuturan serupa di smpaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra ketika ditanya oleh Anas bin Malik mengenai penyebab terjadinya gempa. "Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka? Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”


Begitulah pelajaran yang pernah dicontohkan oleh Rasululloh dan para sahabat ketika terjadi gempa. Gempa senantiasa dijadikan teguran, kode keras dari Sang Pencipta Manusia atas kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan. Maka wahai pemimpin bertaubatlah atas segala kemaksiatan dan pelanggaran terhadap aturan Allah dan ajaklah rakyatmu untuk bertaubat. Jika manusia tidk mengindhkan kodenya sama saja seperti menghalalkan atas azabNya, Naudzubillah tsumma Naudzubillah.

Demokrasi: Ilusi High Quality Education

Demokrasi: Ilusi High Quality Education


Oleh: Tri S, S.Si*

Demokrasi, kapitalisme dan sekulerisme merupakan satu keluarga yang tak terpisahkan. Sekulerisme sebagai paham yang memisahkan agama dari kehidupan membuat sebuah sistem kehidupan yang “say no to God” untuk mengatur kehidupan di dunia. Hingga muncullah kapitalisme yang merupakan hasil peranakan sekulerisme yang menganggap semua akan berarti ketika ada uang. Muncullah sekolah-sekolah yang katanya berkualitas dengan harga yang selangit. Otomatis, mayoritas mobil mentereng yang mengantar anak murid kesekolah tersebut. Berbeda dengan sekolah alakadarnya yang paling banter diantar sama kendaraan umum atau jalan kaki. Jomplang sekali fakta keadaan pendidikan dinegeri ini. Bagaimana dengan produk pendidikan disekolah berbagai kasta? Karena sama-sama berakar dari sekulerisme, hasil pendidikannya tidak jauh berbeda. Kepribadian Islam minus dari pelajar. Kalau anak borju nyontek pake gadget, maka bagi mereka yang ngga borju, menyontek dengan menulis dikertas dan disimpan didaerah anggota tubuh tertentu di badannya. Kalau anak borju bolos sekolah karena main game online dirumahnya, maka mereka yang ngga borju melakukan bolos sekolah untuk main game online  di warnet. Kalau anak borju berpacaran di mall-mall, maka mereka yang ngga borju berpacaran di taman-taman kota yang gratisan. Meskipun dunia mereka berbeda, namun aktivitas mereka tidak jauh berbeda dan jauh dari Islam dalam bertingkahlaku. 

Kebebasan bertingkahlaku yang dilakukan pelajar saat ini merupakan hasil penanaman demokrasi di kurikulum pendidikan kita. Demokrasi mengusung 4 kebebasan seperti beragama, berpendapat, bertingkahlaku dan kepemilikan. Jadilah para pelajar bertingkahlaku seenaknya dan cenderung sulit ketika harus diatur oleh Islam, agama yang lengkap mengatur kehidupan dunia dan akhirat. Pelajar juga dijauhkan dari pendidikan agama, yang dibuktikan dengan minimnya jam belajar untuk pelajaran agama di sekolah. Kalaupun ada, cenderung hanya teori. Sulit untuk diaplikasikan. Terlebih sulit untuk menemukan tempat solat memadai disekolah-sekolah tertentu bahkan sulit menemukan sekolah yang juga mengajarkan Islam sebagai pengatur hidup dalam segala aspek kehidupan manusia. Begitupun dalam berpendapat. Tidak jarang pelajar memberi pendapat hanya berdasarkan rasionalitas mereka. Mungkin mereka belum memahami bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban dan Islam memiliki jawaban setiap detil permasalahan yang ada. Kebebasan kepemilikan juga mulai diusung oleh pelajar. Karena setiap zaman ada trend tertentu, maka dengan adanya stimulus kapitalisme yang memunculkan anggapan bahwa ngga trendy kalau ngga mengikuti perkembangan zaman maka membuat pelajar berusaha keras meliliki benda-benda tertentu agar dibilang bisa mengikuti zaman. Sebagai contoh, ada pelajar yang megambil barang yang bukan haknya atau mengambil uang orang lain agar bisa memiliki barang yang dia inginkan. Ya supaya dibilang trendy dan gaul dikalangan pelajar. 

Beberapa kondisi diatas menunjukkan bahwa demokrasi membuat manusia bebas berkehendak tanpa diatur oleh Tuhannya yang Maha Mengetahui akan kondisi hambaNya sekecil apapun kondisinya. Allah SWT Rabb Yang Maha Segalanya, tau akan kondisi hamba yang diciptakannya dan apa yang terbaik sehingga dalam hidup kita dilengkapi seperangkat  aturan ysng sesuai dengan fitrah kita, memuaskan akal dan menenteramkan hati. Alquran dan Sunnah menjawab berbagai macam problematika manusia. Jadi mana mungkin manusia yang memang makhluk sempurna tapi tak sesempurna penciptanya berhak membuat undang-undang yang padahal sudah diatur oleh Al-Khaliq. Apakah manusia tau apa yang akan terjadi, esok atau tahun depan? Apakah manusia tau apa yang ada dibalik dinding jika tanpa bantuan alat? Itu sedikit contoh untuk menunjukkan kelemahan manusia dan memang tak bisa disandingkan  dengan Al-Khaliq. [Tri S]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi) 


Bahaya Propaganda Islam Nusantara

Bahaya Propaganda Islam Nusantara


Oleh: Tri S, S.Si

Islam Nusantara cukup ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Banyak intelektual, ulama, politisi, dan pejabat pemerintah yang menggunakan istilah ini ketika membicarakan Islam. Pemantik awalnya adalah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah Alquran pada saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 17 Mei 2015 di Istana Negara. Sejak saat itu perbincangan Islam Nusantara menghangat. Mereka mempropagandakan Islam Nusantara sebagai wujud implementasi Islam terbaik, Islam sejati. Bahkan tanpa ragu mereka menyebut “Islam Arab” sebagai Islam abal-abal. Tak cukup itu, Islam Nusantara diklaim sebagai perwujudan Islam yang paling pas di dunia sekarang sehingga layak ‘dijual’ keberbagai negara.(Media Umat)

Para pengusung dan pendukung Islam Nusantara ini menggunakan berbagai argumentasi untuk meyakinkan masyarakat. Banyak media massa memberikan ruang yang cukup luas bagi mereka untuk menyampaikan idenya. Karena itu, perlu adanya sikap kritis terhadap argumentasi yang mereka kemukakan. 

Pertama, konsep Islam Nusantara dianggap sebagai wujud kearifan lokal Indonesia. Argumen seperti ini sangat lemah. Pasalnya, Alquran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, tidak ada kekhususan bagi orang Arab, Eropa, Asia, dan sebagainya. Tentu kesalahan sangat fatal, jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Untuk hal yang sifatnya mubah tentu saja Islam bisa mengakomodasi budaya daerah selama tidak menyalahi syariah. Misalnya, memakai kopiah pada saat shalat dibolehkan sebagaimana sorban, karena hal tersebut hukumnya mubah. Namun, memakai jilbab (milhafah/baju kurung/abaya) merupakan kewajiban bagi setiap Muslimah yang akil balig (lihat: QS al-Ahzab[33]: 59). Karena itu jilbab tidak boleh diganti dengan sarung dan kebaya karena pertimbangan budaya lokal di daerah maritim dan agraris. Perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukan produk budaya Arab. Meskipun Alquran dan Hadist berbahasa Arab, isinya bukan budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, hingga sistem pemerintahan Islam bukanlah produk budaya Arab. 

Kedua: Islam Nusantara dianggap sebagai perwujudan Islam yang bersifat empirik. Argument ini tidak sesuai dengan fakta. Faktanya, di dalam Islam, sesuatu yang bersifat normatif tidak terpisah dari empiriknya. Misalnya, secara normatif setiap Muslim harus taat kepada Allah SWT secara totalitas. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan secara empirik supaya sifat normatif ini bisa diimplementasikan, dengan membangun peradaban Islam dalam wadah Negara Islam di Madinah untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah. Artinya, agar setiap Muslim bisa taat kepada Allah SWT secara totalitas, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah. Untuk menerapkan syariah  secara kaffah diperlukan negara. Alasannya, banyak hukum syariah yang tidak bisa dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya negara, misalnya sistem peradilan Islam, sistem Pendidikan Islam, sistem Ekonomi Islam, sistem politik luar negeri, dan sebagainya. 

Ketiga: Islam Nusantara dianggap sebagai bentuk alternatif untuk menampilkan wajah Islam yang lebih “moderat” dan “toleran”. 

Keempat: Islam Nusantara dianggap sebagai sebuah keniscayaan untuk membendung bahaya “Islam Transnasional”. Argumentasi ini tidak ada realitanya dan ahistoris. Mereka seakan lupa bahwa Islam sendiri berasal dari Timur Tengah, bukan “produk” asli Indonesia. Kalau mereka konsisten mestinya shalat, shaum, zakat dan haji mereka sebut juga sebagai produk transnasional. Sejarah juga mencatat, bahwa Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh “orang luar”, yaitu Wali Songo. Jadi Islam itu memang sejak dulu bersifat transnasional, mulai didakwahkan secara lintas negeri dari pusat Negara Islam di Madinah hingga akhirnya menembus wilayah Romawi, Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan seterusnya hingga masuk ke Nusantara ini. 

Faktanya, tidak ada yang salah dengan Islam transnasional sehingga harus dibendung dengan Islam Nusantara. Memang demikianlah semestinya karakteristik dakwah Islam yang harus diemban oleh kaum Muslim ke seluruh dunia, melintasi sekat-sekat wilayah geografis. Justru ide Islam Nusantara yang bersifat kewilayahan itulah yang berbahaya karena pada akhirnya akan mengerdilkan Islam itu sendiri. [Tri S]

(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi) 


Mengkaji Ulang Kurikulum Agama, Perlukah?

Mengkaji Ulang Kurikulum Agama, Perlukah?


Oleh : Mardhiyatuzakiyah 

(Mahasiswi Universitas Singaperbangsa Karawang)

Belum usai tuduhan demi tuduhan terhadap ajaran Islam dan lagi-lagi hal itu kini diperdebatkan. Padahal apa yang kita yakini dan imani dalam ajaran Islam tak lain pasti memiliki tujuan yang mulia. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H Said Aqil Sirodj mengatakan kurikulum pelajaran agama di sekolah cenderung mengajarkan sesuatu yang radikal, contohnya perang uhud, perang badar, dan lainnya. Ia pun mengusulkan bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian ulang kurikulum agama di Indonesia. (Posmetroinfo-2018/07)

Disamping itu, Ketum PBNU ini berharap semua masyarakat Indonesia dapat memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik karena jika itu semua mereka lakukan pasti akan tercipta akhlakul karimah yang akan menghasilkan toleransi beragama antar masyarakat. “Toleransi ini muncul karena akhlakul karimah. Ruang toleransi itu berakhlak, kalau tidak berakhlak tidak mungkin akan toleransi” ujarnya beberapa waktu lalu dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur.

Adanya upaya pengkajian ulang kurikulum agama ini menuai keresahan. Pasalnya, agama Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Tak satupun pembahasan luput dalam agama ini. Mulai dari permasalahan aqidah, syariah, muamalah hingga uqubat dan daulat. Bab sejarah tentang peperangan dalam Islam adalah bentuk syi’ar untuk mengajarkan kepada ummat bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya memperjuangkan dan mempertahankan Islam. Peperangan dalam Islam tidak hanya soal pedang dan perang namun lebih dari itu, Islam memiliki aturan yang apik tentang ini. Sebagaimana Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi  janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(Q.S. Al-Baqarah:190)

Dalam tafsir Al-Qurthubi, sahabat Ibnu abbas RA, Ummar bin Abdul Aziz dan Mujahid menafsirkan ayat di atas sebagai berikut :

“Perangilah orang yang dalam keadaan sedang memerangimu, dan jangan melampaui batas sehingga terbunuhnya perempuan, anak-anak, tokoh agama dan semisalnya.”

Islam rahmatan Lil’alamin melarang membunuh perempuan, anak-anak, tokoh agama, para ‘asif atau pelayan sewaan seperti paramedis yang mengerjakan tugas-tugas perawatan selama peperangan berlangsung dan personel keagamaan militer, para orang tua (manula), para agamawan dan rohaniawan, dan para tawanan perang. Selama peperangan berlangsung, Islam juga melarang merusak pepohonan yang masih menghasilkan buah, menghancurkan rumah, membantai kambing dan unta, mencuri barang rampasan perang, dan bersikap pengecut. Berdasarkan penjelasan di atas, sangat tidak pantas jika peperangan dalam Islam dianggap sebagai suatu radikal yang berkonotasi negatif. Adapun sebelumnya masyarakat harus paham betul makna dibalik kata radikal. Menurut KBBI, radikal memiliki arti secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Kemudian jika kita kaitkan pada masalah ini, kita perlu mengajarkan Islam secara radikal agar terbentuk pemahaman yang mendasar sampai kepada hal yang pokok.

Jika benar Ketum PBNU ini mengharapkan agar masyarakat Indonesia memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan baik, mengapa mengajarkan salah satu bab sejarah dalam Islam (tentang peperangan) dianggap sebagai hal yang radikal dan perlu dikurangi porsinya?. Padahal Allah SWT memerintahkan kita untuk masuk ke dalam agama-Nya secara keseluruhan :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”(Q.S. Al-Baqarah:208)

Jelas dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala melarang ummat-Nya untuk memilah-milah sebagian hukum Islam atau ilmu Islam mana yang hendak diamalkan, tapi kita harus mengamalkan seutuhnya tanpa pemilihan sebelumnya. Termasuk mempelajari sejarah tentang peperangan pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk membela dan mempertahankan agama Islam. 

Banyak tuduhan datang silih berganti terhadap Islam dan ajaran-ajarannya merupakan bukti rendahnya pemahaman masyarakat tentang Islam. Mereka hanya memandang Islam dari sudut pandang praktis tanpa mau mengamalkan Islam ideologis. Alhasil, makin maraknya sekularisasi pendidikan yang memisahkan pendidikan agama dengan kehidupan. Padahal dalam Islam, dua hal ini bak awan dan langit yang saling melengkapi dan beriringan. Sudah seharusnya apa yang kita lakukan di dunia ini sejalan dengan urusan akhirat yang bersumber pada keridhoan Allah. 

Berkenaan dengan pembelajaran bab sejarah tentang peperangan, perlu adanya penjelasan secara khusus dan menyeluruh dari tim pengajar. Dalam Islam, pengajar bukan hanya mengajarkan ilmu dan pengetahuan tapi juga mendidik siswa agar memiliki karakter yang islami. Salah satu perantaranya melalui kisah-kisah heroik para pejuang Islam. Diharapkan pengajar mampu membentuk karakter siswa yang tangguh, jujur, dan berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di masa yang akan datang.




Cinta di Atas Taat

Cinta di Atas Taat


Oleh: Hamsina Halik 

(Anggota Komunitas Revowriter)


_"Cinta berjalan di hadapan kita dengan mengenakan gaun kelembutan. Tetapi sebagian kita lari darinya dalam ketakutan atau bersembunyi dalam kegelapan. Dan sebagian yang lain mengikutinya untuk melakukan kejahatan atas nama cinta"._ (Khalil Gibran)


Cinta. Lima huruf yang terangkai menjadi satu kata yang penuh makna. Mendengarnya saja mampu membuat hati tenang dan berbunga-bunga. Apatah lagi jika benar-benar merasakannya. Membuat diri mampu melakukan  apa saja atas nama cinta. Serasa dunia adalah milik sendiri. Itulah cinta sebagaimana makna yang terkandung dalam sepenggal kalimat dari Khalil Gibran diatas.


Cinta adalah sesuatu yang alami. Ada pada setiap insan. Sebab, Allah  SWT telah memberikan berbagai potensi kepada hamba-Nya. Salah satunya gharizah nau' (naluri mempertahankan jenis). Adapun manifestasi dari gharizah nau' ini adalah adanya rasa cinta/kasih sayang. Misalnya cinta atau kasih sayang kepada orangtua, saudara atau keluarga. Termasuk cinta kepada lawan jenis. 


Perasaan cinta dan kasih sayang  ini  muncul dari dalam diri, tersebab adanya rangsangan dari luar atau faktor eksternal yang memicunya. Contoh: cinta kepada lawan jenis ada, sebab adanya interaksi yang intens dengan lawan jenis, sering telponan/chatingan, saling ciri pandang hingga timbul rasa kagum yang kemudian berubah menjadi benih-benih cinta.


Apa Itu Cinta?


Ketika ditanya apa itu cinta, maka tiap orang punya pandangan yang berbeda dalam memaknai cinta. Ada yang berkata cinta itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Cukup dirasakan saja, nikmati tanpa untaian kata-kata. 


Cinta, dalam KBBI diartikan sebagai suka sekali; sayang sekali;  sayang benar; kasih sekali. Benar-benar diluar dugaan kita makna cinta ini. Benarkan itu arti cinta?  Dalam buku, "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu", karya dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah, cinta memiliki banyak arti. 


Diantaranya, Mahabbah diartikan sebagai cinta yang artinya jernih, tak ada kebohongan dan kepalsuan. Benar-benar jernih, layaknya cinta seorang ibu kepada anaknya. Cinta yang tulus. 

Cinta diartikan juga sebagai rasa gundah atau tidak tenang. Yaitu perasaan yang tidak tenang, selalu ingin dekat dengan orang yang dicinta. 



Cinta yang Salah


Bukan sesuatu yang salah jika sampai jatuh cinta. Namun, perlu diperhatikan bagaimana mengekspresikan cinta itu menjadi sebuah nilai, baik atau buruk.  Menjadi baik ketika cara mengekspresikannya tak keluqr dari tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebaliknya, menjadi buruk jika diekspresikan sesuai keinginan hawa nafsu semata. Keluar dari jalur aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. 


Faktanya, saat ini para remaja muslim banyak yang keluar dari jalur aturan Allah SWT. Memilih mengekspresikan cinta lewat jalur yang salah, yaitu pacaran. Dengan alasan untuk saling mengenal satu sama lain. Agar bisa paham akan perbedaan masing-masing dan mampu menerima apa adanya. Terlebih, katanya agar ada yang memotivasi untuk lebih giat belajar juga lebih rajin beribadah. Saling mengingatkan satu sama lain. Sebuah pembenaran bagi insan yang dimabuk cinta. 


Inilah cinta yang salah, disalurkan dengan cara yang tak sesuai aturan Allah. Penyaluran yang akan menghantarkan pelakunya ke dalam perbuatan zina. Memang tak selamanya pacaran itu berzina. Tapi, perlu diingat pacaran merupakan pintu terjadinya perbuatan zina ini. Sabda Rasulullah SAW:


“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)


Dan dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Is’ra: 32)


Maka, sepatutnyalah seorang muslim menjauhkan diri dari perbuatan keji ini. Salurkan  cinta dengan cara yang benar. Agar  terjaga kehormatan dan kesucian diri.  Ridho Allah pun akan diperoleh.



Jangan Salahkan Cinta


Tanamkan dalam diri bahwa cinta adalah fitrah. Sesuatu yang agung. Naluri yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Tak bisa ditolak, tak ada pilihan. Hanya penyalurannya diberikan pilihan. Sesuai syariat-Nya atau tidak. Jalan yang diberkahi Allah atau tidak.  Maka, jangan salahkan cinta jika belum bisa menyalurkan di jalan yang diridhoi Allah. Memilih cinta dalam diam adalah lebih baik ketimbang menyalurkan cinta dijalan yang salah.  Sebab cinta pun bisa memasukkan seseorang ke dalam surga. Simaklah kisah dibawah ini:


Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya : “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Dia menjawab : ”Cinta Allah dan Rasul Nya.” maka beliaupun menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Maka Anas bin Malik radliyallahu’anhu perowi hadits ini pun berseru gembira : “Demi Allah, Saya mencintai Rasulullah, Mencintai Abu Bakr dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka disurga”. (HR. Bukhari Muslim)


Cinta kepada Allah adalah cinta diatas segalanya. Mencintai seseorang karena ketaatannya kepada Allah. Menghadirkan cinta yang dilandasi karena ketaatan kepada Allah adalah suatu kemuliaan. Ada kebahagiaan yang menghujam dalam diri. Senantiasa menjauhkan diri dari cinta yang diharamkan. Ada getaran hati manakala disebut nama-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:


“Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal. (TQS. Al Anfal: 2)


Itulah cinta diatas ketaatan. Memilih mencintai dalam  diam manakala cinta datang menyapa hati yang kosong. Bersabar menunggu dalam penantian cinta yang halal. Menyibukkan diri dalam aktivitas yang lebih mendekatkan kepada Allah. Agar hati dan kehormatan tetap terjaga.


Wallahu a'lam.